Rabu, 14 April 2010

Laporan Biokimia Lipid

A.      JUDUL PERCOBAAN            :  LIPID

 

 

B.       DASAR TEORI

Lipid adalah nama suatu golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah senyawa yang terdapat di alam yang semuanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik tetapi sukar larut atau tidak larut dalam air. Pelarut organik yang dimaksud adalah pelarut organik nonpolar, seperti benzen, pentana,dietil eter,dan karbon tetraklorida.Dengan pelarut-pelarut tersebut lipid dapat diekstraksi dari sel dan jaringan tumbuhan ataupun hewan.

Lipid di kelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok lipid sederhana (simple lipids) dan kelompok lipid kompleks (complex lipid). Lipid sederhana mencakup senyawa-senyawa yang tidak mudah terhidrolisis oleh larutan asam atau basa dalam air dan terdiri dari subkelompok-kelompok: steroid,prostaglandin dan terpena.

Lipid kompleks meliputi subkelompok-kelompok yang mudah terhidrolisis menjadi zat-zat penyusun yang lebih sederhana, yaitu lilin (waxes) dan gliserida.

Komponen-komponen campuran lipid dapat difraksionasi lebih lanjut dengan menggunakan perbedaan kelarutannya didalam berbagai pelarut organik. Sebagai contoh; fosfolipid dapat dipisahkan dari sterol dan lemak netral atas dasar ketidaklarutannya di dalam aseton.

Suatu reaksi yang sangat berguna untuk fraksionasi lipid, adalah reaksi penyabunan. Alkali menghidrolisa lipid kompleks dan menghasilkan sabun dari komponen-komponen yang mengandung asam-asam lemak yang dapat diesterkan.

 

C.      ALAT DAN BAHAN

a. Reaksi uji lipid

1).Uji Akrolein

v  Alat-alat                                                   

- Mortir                                                      - Spatula                                 

- Tabung reaksi                                          - Pipet tetes

- Penjepit tabung                                       - Neraca analitik

- Pembakar bunsen

 

v  Bahan-bahan

- Gliserol                                                   - KHSO4

- Lemak                                                     - Aquades

 

2). Uji Penyabunan

v  Alat-alat

- Tabung reaksi                                          - Penangas air

- Pipet tetes                                               - Gelas kimia

- Gelas ukur

v  Bahan-bahan

- KOH alkoholis 10 %

- Lemak

- Aquades

 

3). Uji Peroksida

v  Alat-alat

- Gelas ukur

- Pipet tetes

- Tabung reaksi

 

v  Bahan-bahan

- Minyak olive                                           - laritan KI 10 %

- Kloroform                                               - Asam asetat glasial

 

b. Sifat-sifat kimia lipid

1). Penentuan Angka Iod

v  Alt-alat

- Neraca analitik                                        - Statif dan buret

- Erlemeyer                                                - Pipet tetes

- Gelas ukur

v  Bahan-bahan

- Lipid

- Kloroform

- Larutan iodin hanus

- Larutan KI 15 %

- Na2S2O3 0,1 N

- Larutan kanji 1 %

PROSEDUR KERJA

D.    HASIL PENGAMATAN

 

PERLAKUAN

HASIL PENGAMATAN

1). Uji Akrolein

- 0,5 gr lemak + 0,5 gr KHSO4, dipanaskan

- 0,5 gr gliserol + 0,5 gr KHSO4, dipanaskan

 

2). Uji Penyabunan

- 10 ml larutan KOH alkoholis 10 % + minyak,dikocok

 

- Dipanaskan di atas penangas air

 

 

- + 10 ml air

- Dipanaskan sampai semua alkohol menguap

 

 

3). Uji Peroksida

- 1 ml minyak olive + 1 ml kloroform

 

- + 1 ml asam asetat glasial,dikocok

 

 

- +  1 tetes larutan KI 10 %

 

- didiamkan selama 5 menit

 

 

- Bau lemak (tengik)

- Tidak berbau

 

 

 

 

- Larutan  berwarna kuning muda tidak saling bercampur

 

- Minyak larut dalam KOH alkoholis dan larutan berwarna kuning muda

 

 

- KOH alkoholis bercampur dengan lemak dan larutan berwarna kuning muda.

 

 

- minyak larut dalam kloroform

 

 

- terbentuk 2 lapisan,lapisan atas minyak yg berwarna kuning dan lapisan bawah berwarna putih.

 

- larutan berwarna kuning

 

- terbentuk 2 lapisan,lap.atas berwarna putih dan lap. Bawah kuning

 

4). Penentuan Angka Iod

- 0,25 gr lipid padat + 10 ml kloroform

 

- + 30 ml larutan iodin hanus

 

- didiamkan selama 30 menit

 

- + 10 ml larutan KI 15 %

 

- + 100 ml aquades

 

- dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N

 

- + 2 ml indikator kanji

 

- dititrasi kembali dengan Na2S2O3 sampai larutan berwarna biru

 

- lipid tidak larut dalam kloroform

 

 

- Larutan berwarna cokelat tua

 

 

-larutan berwarna cokelat muda

 

 

- larutan berwarna kuning

 

- larutan berwarna putih

 

- tidak terjadi perubahan warna larutan

 

E.     PEMBAHASAN

Lipid merupakan senyawa yang banyakterjadi di alam. Senyawa ini dapat diperoleh dengan jalan mengekstraksi bahan-bahan alam baik tumbuhan maupun hewan dengan pelarut tidak polar sperti petroleum eter, benzena, kloroform, dan lain-lain. Dilihat dari strukturnya senyawa lipida tersusun oleh rantai hidrokarbon yang panjang, sehingga lipida ini tidak larut dalam air. Senyawa lipida diberi nama berdasarkan sifat fisikanya (kelarutan) dari pada secara struktur kimianya. Secara umum lipid dibagi menjadi dua golongan besar yaitu lipid sederhana dan lipid kompleks. Lipid yang termasuk dalam golongan sederhana adalah senyawa-senyawa yang tidak mempunyai gugus ester dan tidak dapat dihidrolisis. Golongan ini merupakan steroid. Golongan lipida kompleks tersusun oleh senyawa-senyawa yang mempunyai gugus ester dan dapat dihidrolisis, yang melipti minyak lemak dan lilin.

Pada percobaan ini dilakukan 3 reaksi uji lipid, yaitu uji akrolein, uji penyabunan, dan uji peroksida. Selain itu dilakukan percobaan penentuan angka iod untuk sifat larutan kmia lipid.

1.      Uji akrolein

Uji akrolein untuk gliserol tergantung pada dehidrasi dan oksidasi gliserol menjadi akrolein. Dalam uji ini ada dua percobaan yaitu percobaan pertama 0,5 gram lemak cair + 0,5 gram KHSO4 yang sudah digerus, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi kering, selanjutnya dipanaskan dengan pembakar Bunsen, mula-mula dengan api kecil kemudian dilanjutkan dengan api dengan nyala besar. Pada saat dan KHSO4 medidih menghasilkan bau lemak (tengik).Sedangkan pada percobaan yang kedua untuk uji akrolein, 2 ml gliserol ditambahkan dengan 0,5 gr KHSO4 kemudian dipanaskan. Dari hasil yang diperoleh, campuran tersebut tidak menghasilkan bau. Reaksi yang terjadi adalah:

 

 

 

 

 

 

 


2.      Uji Penyabunan

Uji penyabunan untuk asam-asam lemak dilakukan dengan menambahkan 10 ml KOH alkoholis 10% kedalam minyak yang hendak diuji, kemudian dikocok. Pencampuran ini menghasilkan larutan berwarna kuning muda yang tidak saling campur. Setelah itu minyak dan KOH alkoholisis 10% dipanaskan diatas penangas air. Pada proses pemanasan ini minyak dapat larut dalam KOH alkoholisis dan larutan berwarna kuning muda. Adapun reaksi kimia yang terjadi adalah:

 

 


Reaksi di atas dikenal dengan reaksi penyabunan (saponifikasi). Reaksi ini bertujuan untuk pengambilan asam-asam lemak dari minyak, sehingga dihasilkan campuran sabun dan gliserol yang mudah larut dalam air dan alkohol. Pada pengambilan asam lemak ini, minyak dihidrolisis dengan larutan alkali yaitu KOH (Kalium hidrosida)

3.      Uji Peroksida

Minyak atau lemak yang mengandung asam-asam lemak tidak jenuh dapat teroksi dari oksigen yang menghasilkan suatu senyawa peroksida. Apabila minyak mengalami oksidasi maka senyawa peroksida yang dihasilkan akan meningkat.

Pada percobaan ini 1 ml minyak olive ditambahkan dengan 1 ml kloroform. Pada proses penambahan ini minyak larut dalam kloroform, karena kloroform merupakan pelarut nonpolar.

Campuran minyak olive dan kloroform kemudian ditambahkan 1 ml asam asetat glasial, kemudian dikocok. Peranan asam asetat glasial dalam pemisahan asam lemak yaitu sebagai katalis, artinya asam asetat dapat mempercepat reaksi yang sedasng berlangsung sehingga reaksinya lebih cepat membentuk asam lemak. Minyak olive yang ditambahkan 1 ml kloroform dan 1 ml CH3COOH glasial kemudian dikocok, menyebabkan terbentuknya 2 lapisan, yaitu pada lapisan atas minyak berwarna kuning dan pda bagian bawah berwarna putih. Campuran tersebut kemudian ditambahkan dengan 1 tetes larutan KI 10% sehingga larutan berwarna kuning. Langkah selanjutnya didiamkan selama 5 menit. Dari proses ini kembali terbentuk 2 lapisan. Lapisan atas berwarna putih dan bawah berwarna kuning.

 

4.      Penentuan Angka Iod

Lipid mengandung bermacam-macam asam lemak tak jenuh yang bereaksi dengan ion. Jumlah iod yang diabsorpsi menetukan jumlah ketidak jenuhan dalam lipid. Jadi angka iod didefinisikan sebagai berikut: banyaknya gram iod diabsorpsi oleh 100 gr lipid. Dua metode yang umumnya dipakai yaitu: metode Hanus yang memakai iodin bromida sebagai carrier dan metode Wijs yang memakai iodin klorida. Namun metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode iodin Hanus. Sebanyak 0,25 gr lipid padat ditambahkan 10 ml kloroform. Lipid padat ini tidak larut dalam kloroform karena lipid yang digunakan adalah lipid padat, bukan lipid yang sudah dicairkan dengan proses pemanasan.

Selanjutnya ditambahkan 30 ml larutan iodin Hanus kemudian didiamkan selama 30 menit dengan sesekali dikocok. Hasil yang diperoleh, larutan menjadi cokelat tua.

Setelah 30 menit larutan ini ditambahkan dengan 10 ml larutan KI 15%. Larutan berubah warna menjadi cokelat muda. Selanjutnya ditambahkan 100 ml aquadest kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N, larutan menjadi kuning, setelah itu ditambahkan dengan 2 ml indikator kanji sampai larutan berwarna putih dan dititrasi lagi dengan Na2S2O3. Pada titrasi kedua ini larutan tidak berubah atau tidak terjadi perubahan warna larutan.

KEISMPULAN

1.      Uji akrolein untuk gliserol tergantung pada dehidrasi dan oksidasi gliserol menjadi akrolein.

2.      Reaksi pembentukan sabun dari minyak dilarutkan dengan cara mereaksikan alkali dengan minyak sehingga didapatkan suatu sabun.

3.      Pada reaksi safonifikasi dihasilkan campuran gliserol dan sabun

4.      Minyak atau lemak mengandung asam-asam lemak tidak jenuh dapat teroksidasi oleh oksigen yang menghasilkan suatu senyawa peroksida.

5.      Pada percobaan angka iod tidak dihasilkan seperti yang diharapkan, mungkin karena kesalahan pada prosedur kerja.

 

KEMUNGKINAN KESALAHAN

Adapun kemungkinan keslahan pada saat percobaan adalah:

1.      Saat mereaksikan larutan.

2.      Pemanasan larutan.

3.      Pengukuran larutan.

4.      Pengamatan warna.

DAFTAR PUSTAKA 

Anwar Chairil. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi.

Kristian. 2003. Kimia Organik I JICA. Malang: Universitas Negeri Malang

Teaching Team. 2007. Penuntun Praktikum Biokimia. Gorontalo: Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNG.

2 komentar:

  1. saya mau bertanya tentang uji peroksida yang sudah diujikan. apa fungsi penambahan KI 10% pada minyak yang diujikan? atas tanggapa Saudara saya ucapkan terima kasih

    BalasHapus
  2. kalo bole mencoba jawab,,menurut saya penambahan KI pada uji peroksida untuk membebaskan iodium agar nantinya bisa membentuk warna kuning-merah..

    BalasHapus